Tuesday, March 24, 2020

Pandemik Global Virus Corona, Ilmuwan Dunia Sebut Indonesia Sangat Gawat

Advertisement



Meski obat virus corona (COVID-19) diklaim telah berhasil ditemukan, para ilmuwan di seluruh dunia masih terus menyoroti cara penanganan, khususnya Asia Pasifik. Dari pantauan para ilmuwan dunia, Indonesia dinilai memiliki penanganan virus corona terburuk.

"Dari seluruh negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling menkhawatirkan. Indonesia memiliki komunitas yang sangat besar tapi birokrasi yang tidak rapi. Penanganan krisis yang buruk di Indonesia dapat membuat negara terpapar semakin buruk," ucap Dosen Griffith University Lee Morgenbesser, seseorang ahli dalam politik Asia Tenggara, dilansir page smh.com, Selasa (24/3/2020).

Sementara itu, Profesor virologi Kampus Queensland, Ian Mackay menyoroti beberapa tanda peringatan yang datang dari Indonesia. Peringatan itu memberi sinyal bahwa situasi di Indonesia bisa jauh lebih buruk daripada jumlah kasus yang diekspos ke publik.

Waktu Anda menonton banyak kematian dalam waktu singkat, seperti yang Berjalan, itu menunjukkan ada beberapa kasus selama beberapa waktu. Kami juga telah menyaksikan banyak pelancong yang terinfeksi ke luar dari Indonesia dan itu masalah lain karena mereka hanya belum cukup diuji," ucap Mackay.

Tingkat kematian di Indonesia saat ini sekitar delapan % dari kasus, jauh lebih tinggi daripada Rata rata internasional, meski ini mungkin hanya mencerminkan jumlahnya kecil tes yang dilakukan dengan cara proporsional.

Pada awal mulanya, pemerintah Indonesia telah menyangkal penyebaran virus selama berminggu-minggu. Indonesia telah menguji sekitar 1.500 orang dari 270 juta Komunitas, angka yang tidak sebanding kalau di bandingkan dengan lebih dari 80 ribu orang yang diuji di Australia dan 250 ribu orang di Korea Selatan.

Morgenbesser meneruskan bahwa ia tidak percaya angka yang dilaporkan oleh Laos dan Kamboja, yang mengklaim hingga hari ini tidak ada yang terindikasi virus corona . Buat tiap-tiap pemerintah di wilayah ini, krisis virus Corona yakni tes kompetensi yang setara dengan krisis keuangan, serangan teroris besar, atau perang.

"Ini ialah ujian kepada sesuatu yang tidak bisa Anda lihat dan Anda hanya punya sedikit kontrol, paling tidak pada awalnya. Yang diuji ialah seberapa transparan diri Anda, akuntabel diri Anda, dan seberapa efisien system yang telah Anda tempatkan," jelas Morgenbesser.

Beberapa negara di Asia telah mencatat kenaikan paling besar dalam satu hari utk jumlah kasus virus Corona (COVID-19). Terpantau pada Selasa (24/3/2020) lewat website resmi Johns Hopkins Coronavirus Resource Center, Indonesia terdaftar telah ada 579 kasus, Malaysia 1.518 kasus, dan Thailand banyaknya 721 kasus.

Sementara Vietnam (123 kasus), Kamboja (87 kasus), dan Filipina (462 kasus) mencatat peningkatan infeksi harian yang stabil. Sedangkan Laos dan Myanmar masih mengklaim tidak ada kasus.

Singapura sendiri, yang mencatat kasus mula-mula kali pada 23 Januari lalu, telah mencapai 509 infeksi. Negara ini melaporkan, telah berjalan dua kematian pertamanya dari kasus COVID-19 pada Sabtu (21/3/2020). Salah satu korban merupakan seseorang WNI dari Indonesia.

Clarence Tam, asisten profesor penyakit menular di Kampus Nasional Singapura, mengemukakan Hong Kong dan Singapura telah menangani pandemi virus Corona dengan relatif baik. Ke-2 negara ini memiliki keuntungan tersendiri, seperti wilayah yang lebih kecil maka memiliki batas terkontrol dengan baik dan membuat pelacakan kontak dan penyaringan kontak intensif lebih mudah. 

Ke-2 negara itu telah memiliki bekal pengalaman dalam menghadapi epidemi SARS pada thn 2003. Artinya, selama 15 th terakhir ke-2 negara itu juga telah berinvestasi dalam kapasitas dan infrastruktur utk menangani kategori wabah seperti COVID-19.

Buat COVID-19, saat ini kami tidak tahu berapa banyak anak yang tertular. Mungkin banyak kasus pada anak-anak yang tidak terdeteksi karena penyakit pada anak-anak condong ringan, tapi kami juga tidak menyaksikan banyak wabah di sekolah," ucap Tam, seperti dikutip dari Sarasota Memorial Health Care System.

Hal penting yang dapat dipelajari dari negara seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan dalam menangani virus Corona yakni pengujian yang dilakukan sejak awal dan dengan cara luas, isolasi yang efektif, penulusuran kontak, dan karantina. Itu jadi kunci utk mengendalikan virus di bawah kendali.

Tiap-tiap negara yang belum dapat mengaplikasikan langkah-langkah ini dengan cepat, utk argumen apa pun, berisiko tinggi berlangsung penularan pada warga yang tidak terkendali, seperti yang kita lihat sekarang di sebanyak negara Eropa dan Amerika Serikat," jelas Tam.

Kasus lain, seperti di Malaysia juga jadi perhatian kusus karena dilaporkan mengalami kenaikan lebih dari 100 kasus per hari selama lima hari berturut-turut, dan lebih dari dua pertiga dari kasus tersebut terkait dengan tiga hari program Tabligh Gede yang diselenggarakan pada akhir Februari lalu.

Namun dengan system kesehatan Malaysia relatif maju, para dokter dan profesornya terlatih dengan baik dan kompeten. Tam menilai kondisi Malaysia lebih siap daripada vanyak negara di wilayah Asia Tenggara buat menangani COVID-19 dan penutupan perbatasannya dengan orang asing.

Malaysia dinamakan telah memperkenalkan beberapa kontrol perbatasan yang paling ketat. Thailand dan Singapura juga melakukan hal serupa.

Singapura memperkenalkan aturan karantina 14 hari utk kehadiran internasional dan sementara melarang kehadiran dari negara-negara tertentu. Sedangkan, Filipina memberlakukan lockdown di seluruh kota termasuk juga Manila.

Tam Menyampaikan, perlu waktu sekitar dua pekan utk mengetahui apakah langkah-langkah baru dan ketat yang diambil Malaysia dapat memperlambat penyebaran virus

Tetapi, tidak sama dengan Indonesia yang memiliki lebih dari 50 kali komunitas Singapura dan yang telah melaporkan 49 orang Wafat, Tam menilai kondisi yang berlangsung di Indonesia saat ini memunculkan kekhawatiran terbesar.

Indonesia, Malaysia, dan Filipina menghadapi tantangan yang sangat spesifik karena komune yang sangat besar dan menyebar luas, serta kebenaran bahwa negara-negara itu memiliki komune pekerja imigran yang sangat besar.

Buat memiliki respons yang efektif dan terkoordinasi, negara membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dalam memperkuat system kesehatan di seluruh wilayah," papar Tam. 

Artikel Terkait

Silahkan berkomentar dengan sopan serta sesuai topik dan dimohon untuk tidak meninggalkan link aktif.

Terima Kasih.

EmoticonEmoticon